Lahat – Polemik kemunculan kelompok waria dan LGBT dalam Pawai Pembangunan Kabupaten Lahat terus menuai tanggapan. Kali ini, sikap tegas datang dari Bakrun Satia Dharma, Ketua Dewan Kesenian Lahat (DKL) terpilih periode 2025–2030.
Ketika dimintai pendapatnya, Bakrun hanya menyampaikan satu kata yang sarat makna:
“Satu kata: HARAM,” tegasnya.
Menurut Bakrun, seni dan budaya Lahat harus menjadi wadah mengekspresikan kreativitas yang mendidik, membangun, serta selaras dengan nilai-nilai agama dan adat istiadat. Ia menilai, menampilkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama di ruang publik bukanlah bagian dari seni yang bermartabat.
“Lahat punya warisan budaya yang luhur. Kita wajib menjaga agar setiap penampilan di ruang publik tidak mencederai moral dan keimanan masyarakat,” ujarnya.
Bakrun menegaskan bahwa sikap ini bukan bentuk kebencian personal, melainkan komitmen untuk melindungi generasi muda dari pengaruh yang merusak norma agama dan budaya.
Ia juga mengingatkan, jika ada pihak yang memberikan izin atau bahkan memfasilitasi perilaku menyimpang di acara resmi, maka hal tersebut patut dipertanyakan.
“Kita harus tegas. Jangan sampai yang mungkar dianggap wajar,” pungkasnya.
Dengan pernyataan ini, Bakrun berharap seluruh pihak, khususnya penyelenggara kegiatan seni dan budaya di Lahat, lebih selektif dan mengutamakan penampilan yang mencerminkan jati diri masyarakat yang berakhlak dan berbudaya.











