Lahat, lubaiaktual.com – Pemuda bukan sekadar angka dalam statistik, bukan pula hanya simbol fisik yang kuat dan energik. Lebih dari itu, pemuda adalah representasi perubahan dalam sebuah tatanan sosial. Di pundak merekalah arah masa depan suatu daerah ditentukan—apakah akan melaju progresif atau justru stagnan dalam ketertinggalan.
Sejarah telah mencatat, kekuatan pemuda bukanlah mitos. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan penegasan bahwa kualitas pemuda adalah faktor kunci perubahan. Namun, kualitas tersebut tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh sistem yang mendukung: pendidikan yang baik, kesehatan yang terjamin, serta kepastian masa depan yang jelas.
Hari ini, Kabupaten Lahat berada pada momentum penting. Berdasarkan data partisipasi pemilu 2024, hampir 60% pemilih berada pada rentang usia 17 hingga 40 tahun—kategori usia produktif. Artinya, mayoritas masyarakat Lahat adalah generasi muda yang memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan daerah.
Namun, potensi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Tanpa arah dan naungan kebijakan yang tepat, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi bencana demografi. Ketika energi besar pemuda tidak difasilitasi, maka yang muncul bukan produktivitas, melainkan stagnasi, bahkan potensi konflik sosial.
Di sinilah peran strategis Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) menjadi krusial. Dispora tidak boleh hanya dipandang sebagai institusi yang mengurusi olahraga semata. Lebih dari itu, Dispora harus menjadi instrumen utama pemerintah daerah dalam membina, mengarahkan, dan memberdayakan potensi kepemudaan.
Dispora harus hadir sebagai jembatan antara aspirasi pemuda dengan kebijakan pemerintah. Ia harus mampu menerjemahkan gagasan, keresahan, dan harapan pemuda menjadi program nyata yang berdampak. Salah satu langkah konkret adalah menjadikan Dispora sebagai inkubator kepemimpinan dan intelektual—membuka ruang diskusi, forum literasi, serta kolaborasi yang melibatkan organisasi kepemudaan, mahasiswa, karang taruna, hingga komunitas kreatif.
Lebih jauh, penguatan soft skill menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan kepemimpinan, manajerial, kemampuan berpikir kritis, hingga negosiasi harus menjadi program berkelanjutan. Dengan demikian, pemuda Lahat tidak hanya siap menjadi pemimpin lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Tak kalah penting, Dispora juga harus mengambil peran dalam mendorong ekonomi kreatif. Pemberdayaan wirausaha muda melalui pelatihan bisnis, pendampingan, hingga akses permodalan adalah langkah strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi. Pemuda tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif menggerakkan roda ekonomi daerah.
Pada akhirnya, Dispora harus dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pos pengeluaran dalam RAPBD. Keberhasilan pembinaan pemuda hari ini akan menentukan wajah Kabupaten Lahat di masa depan.
Dengan kepemimpinan yang tepat dan dukungan anggaran yang proporsional, bukan tidak mungkin 60% generasi muda Lahat akan menemukan harapan baru dalam sistem pemerintahan yang hadir untuk mereka. Dan dari sanalah, perubahan besar akan dimulai.












