Surat Cinta yang Tertunda untuk Sang Saka
Oleh: D. Erwin Susanto
Kepada Merah Putih yang berkibar di tiang tertinggi,
Maafkan kami yang berdiri di bawah naunganmu.
Di bawah debar angin Agustus yang letih,
Kupandang engkau merentang di angkasa,
Namun pandanganku, Merah Putih, terlampau basah oleh risih,
Oleh malu yang meraja, oleh dosa yang tak bersuara.
Kami mengaku, wahai lambang yang suci,
Kemerdekaan yang dulu direnggut dengan darah dan air mata,
Kini tergelincir dari genggaman nurani,
Terbawa arus tangan-tangan kuasa yang buta.
Maafkan kami yang gagal merawat warisan,
Saat bait-bait Pancasila hanya menjadi pajangan dinding,
Sementara di luar sana, keadilan diperjualbelikan dalam persidangan,
Dan tangis rakyat diredam oleh bedil yang senyap dan dingin.
Engkau dipaksa menjadi saksi bisu,
Atas nama pembangunan, atas dalih kebijakan yang angkuh,
Rakyat kecil digusur dari tanah airnya sendiri tanpa restu,
Dijadikan asing di rumahnya, menanggung derita yang runtuh.
Rezim datang dan pergi membawa janji bersemi,
Namun menorehkan luka tajam di atas penderitaan abadi,
Kebijakan menjelma algojo yang bersembunyi di balik regulasi,
Menindas mereka yang lapar, membungkam mereka yang berani berdiskusi.
Dan kami?
Kami hanya menunduk dalam barisan ketakutan,
Terlalu pengecut untuk melawan badai ketidakadilan,
Membiarkan warna merahmu ternoda oleh kelalaian,
Membiarkan putihmu kusam oleh debu penindasan.
Wahai Sang Saka,
Jangan turunkan kibarmu meski kami penuh cela.
Sebab di balik sujud yang gemetar dan doa yang tertahan,
Masih ada api kecil yang menolak padam selamanya,
Api perlawanan nurani,
Untuk suatu hari nanti, bangkit menebus dosa,
Dan memulihkan kemerdekaan yang sejati bagi Indonesia.




