LubaiAktual.id – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Rycko Menoza menegaskan bahwa penguatan industri batik lokal memerlukan kerja sama lintas sektor yang terencana dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan industri kreatif seperti batik tidak bisa berdiri sendiri.
Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait, seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UMKM, serta Kementerian Perindustrian, untuk mendorong pertumbuhan yang menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Industri batik Solo ini tidak hanya perlu dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan agar mampu bersaing melalui kreativitas warna, motif, dan tren yang modern,” kata Rycko saat melakukan kunjungan kerja reses ke Kampung Batik Laweyan, Surakarta, pada Sabtu, (26/7/25).
Rycko juga menyoroti pentingnya peran negara dalam mendukung para perajin, tidak hanya melalui program pembinaan, tetapi juga dalam penyediaan fasilitas promosi, kemudahan akses pembiayaan, dan pelatihan berkelanjutan berbasis digital.
Ia menilai bahwa Kampung Batik Laweyan merupakan contoh nyata kawasan industri kreatif yang telah berhasil menjaga kelestarian budaya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari persaingan dengan produk printing, keterbatasan akses pasar, hingga regenerasi perajin.
“Harapan para pengrajin harus benar-benar disampaikan dan ditindaklanjuti. Dukungan nyata seperti pelatihan kreativitas motif, revitalisasi peralatan produksi, dan digitalisasi pemasaran menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Selanjutnya, Rycko juga mengapresiasi Pemerintah Kota Surakarta yang dinilai memiliki tata kelola yang baik dalam mengembangkan sektor budaya dan ekonomi kreatif. Menurutnya, daerah dengan skala kecil namun memiliki APBD yang kuat seperti Surakarta bisa menjadi contoh pengembangan industri berbasis kearifan lokal secara nasional.
“Ini bisa menjadi contoh teladan bagi daerah lain. Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam mendukung UMKM dan industri kreatif harus diperkuat agar batik tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi bangsa,” tutupnya.










