LAHAT, lubaiaktual.com/ – Barisan Muda Lahat mendorong adanya pemahaman ulang mengenai praktik infaq bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Organisasi tersebut menilai bahwa pendekatan yang lebih tepat adalah membangun kesadaran spiritual dan edukasi, bukan menetapkan nominal tertentu yang bersifat seragam.
Pandangan ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan yang menyebutkan angka infaq dengan nominal tertentu bagi ASN. Menurut Barisan Muda Lahat, penetapan nominal yang kaku berpotensi menggeser makna dasar dari infaq itu sendiri.
Deka Mandala Ketua organisasi tersebut menjelaskan bahwa infaq pada hakikatnya merupakan bentuk ibadah yang lahir dari keikhlasan individu. Karena itu, praktiknya seharusnya tidak diposisikan layaknya kewajiban administratif yang memiliki standar nominal tertentu.
“Infaq adalah wujud syukur dan kesadaran personal. Ketika nominal dipatok berdasarkan pangkat atau jabatan, ada kekhawatiran nilai keikhlasannya menjadi berkurang,” ujarnya.
Barisan Muda Lahat menilai bahwa pendekatan edukatif jauh lebih efektif dalam membangun budaya berbagi di kalangan ASN. Melalui pemahaman yang benar tentang nilai sedekah dan infaq, kontribusi yang diberikan diharapkan lahir dari kesadaran pribadi, bukan karena tekanan aturan.
Selain itu, mereka juga mengingatkan bahwa sedekah dan infaq dalam ajaran Islam merupakan wilayah spiritual yang sangat bergantung pada kerelaan hati. Oleh karena itu, kebijakan yang terlalu menyerupai mekanisme pungutan atau pajak dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat.
Barisan Muda Lahat berharap kebijakan yang berkaitan dengan infaq dapat diformulasikan dengan pendekatan yang lebih humanis dan edukatif. Tujuannya agar semangat berbagi tetap tumbuh secara alami, sekaligus menjaga nilai keikhlasan sebagai inti dari ibadah tersebut.
Dengan pendekatan yang menekankan kesadaran dan pemahaman, mereka optimistis budaya filantropi di kalangan ASN dapat berkembang lebih kuat dan berkelanjutan.











