Jembatan Runtuh, Rakyat Datang, Tapi Pemimpinnya Tak Ada: Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lahat Hanya Ditemui Para “Pengganti”

Lahat-lubaiaktual.id -Di bawah terik matahari dan dengan semangat yang dibakar oleh rasa kecewa dan kepedulian lingkungan, Aliansi pelajar dan pemuda dari Aliansi Lahat menggelar aksi damai di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Lahat, Selasa pagi (2/7). Mereka datang membawa suara rakyat, menuntut tanggung jawab atas robohnya Jembatan Muara Lawai, sebuah akses vital yang kini tinggal cerita.

 

Namun harapan para demonstran untuk berdialog langsung dengan Bupati dan Wakil Bupati Lahat rupanya harus kandas, karena dua tokoh utama yang paling ditunggu justru tak hadir. Seakan-akan jembatan yang roboh tak cukup penting untuk menggeser agenda mereka hari itu.

 

Sebaliknya, para pengunjuk rasa hanya ditemui oleh PJ Sekretaris Daerah, Kasat Pol PP, Perwakilan Dishub, Kasat Lalu, dan beberapa pejabat lainnya. Kehadiran mereka tentu diapresiasi secara formal, namun bagi massa aksi, kehadiran “pejabat pengganti” ini lebih menyerupai transfer tanggung jawab daripada bentuk empati dan keseriusan.

 

“Kami datang membawa tuntutan rakyat, bukan menitip salam. Tapi yang keluar malah staf dan kepala bagian. Ini bukan rapat staf, ini menyampaikan rakyat!” ujar Syaikh satu orator disambut sorak setuju para peserta aksi.

 

 

Aliansi ini menyampaikan lima tuntutan utama, yaitu:

 

1. Mendesak Pemerintah Kabupaten Lahat dan para pelaku usaha penambangan batubara untuk bertanggung jawab terkait ambruknya jembatan Muaralawai baik secara Moral maupun Materil

 

2. Mendesak Bupati Lahat untuk menguluarkan surat rekomendasi yang di tujukan ke Pemprov SUMSEL terkait larangan seluruh Transportir Angkutan Batubara melewati jalan umum sebelum kejadian serupa kembali terjadi.

 

3. Mendesak Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lahat untuk mengaktifkan Balai Penguji Kendaraan yang selama ini sengaja dimatikan.

 

Tuntutan ini bukan baru muncul kemarin sore. Mereka sudah lama menggema, di forum publik, di warung kopi, bahkan di grup WhatsApp keluarga. Yang baru hanyalah runtuhnya jembatan yang akhirnya membuat suara itu tak bisa lagi diabaikan.

 

Namun ketidakhadiran dua pemimpin daerah hari itu mengirimkan pesan yang tak tersurat, namun sangat terasa: bahwa mungkin, di antara banyak prioritas hari ini, suara rakyat belum tentu berada di urutan teratas.

 

Salah satu mahasiswa Ferly GMNI berujar dengan getir,

 

“Saat rakyat memanggil, pemimpinnya justru absen. Mungkin jembatan memang roboh, tapi yang lebih parah adalah runtuhnya empati dan tanggung jawab.”

Sementara itu, Pemkab Lahat melalui Sekda menyatakan akan menyampaikan aspirasi para demonstran kepada Bupati. Dan akan mengadakan audiensi kepada Bupati dan stikholdernya, janji itu terdengar sopan dan diplomatis, namun seiring dengan debu yang mulai turun dan massa yang perlahan bubar, muncul pertanyaan yang lebih hening:

“Apakah suara rakyat hanya akan sampai di meja, ataukah juga masuk ke hati?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *