LAHAT, lubaiaktual.com – Pawai pendidikan hari ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas dan semangat para pelajar, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan nilai moral. Di antara berbagai marching band yang ikut memeriahkan pawai, penampilan SMPN 6 Lahat dan SMP Labbaik menjadi perhatian karena mengedepankan busana yang sopan dan mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islami.

SMPN 6 Lahat tampil dengan karakter yang berbeda. Mulai dari anggota marching band hingga mayoret, seluruhnya mengenakan busana yang rapi, sopan, dan tetap menarik. Penampilan tersebut seakan menunjukkan bahwa kreativitas dalam seni pertunjukan tidak harus mengesampingkan nilai kesopanan.
Hal ini dinilai selaras dengan semangat “Lahat Kota Takwa”, bahwa nilai-nilai ketakwaan dan pendidikan karakter dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui kegiatan seni dan budaya di kalangan pelajar.

Ketika guru pembina yang turut mendampingi rombongan ditanya mengapa mayoret perempuan tidak menggunakan busana yang dianggap seksi dan mayoret laki-laki tidak menampilkan gaya feminin, ia menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari prinsip pendidikan yang diterapkan di sekolah.
“Kami sekolah negeri yang Islami. Kami mendidik anak-anak untuk menjaga sopan santun, menunjukkan jati diri, dan tidak bergaya yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kami ajarkan,” ujarnya.
Pesan serupa juga disampaikan Gilang, salah seorang guru pembina dari Yayasan Labbaik yang turut menurunkan pasukan marching band SMP Labbaik dalam pawai pendidikan tersebut.
Menurut Gilang, penampilan marching band tidak harus mengedepankan kesan seksi untuk dapat menarik perhatian. Justru, sekolah ingin menunjukkan bahwa pelajar tetap dapat tampil percaya diri, kreatif, dan memukau dengan busana yang lebih santun.
“Karena kami mendidik anak-anak secara Islami dan mengajak untuk menampilkan busana yang lebih sopan. Mayoret tidak harus seksi,” ucap Gilang.
Sikap kedua sekolah tersebut memperlihatkan bahwa marching band bukan semata-mata tentang musik, gerakan, dan kemeriahan. Di balik setiap penampilan, terdapat nilai pendidikan yang ingin ditanamkan kepada peserta didik.

Dakwah pun tidak selalu harus disampaikan dari atas mimbar. Dalam konteks pendidikan, dakwah dapat hadir melalui keteladanan, kedisiplinan, cara berpakaian, sikap, hingga karya seni yang ditampilkan di tengah masyarakat.
Penampilan SMPN 6 Lahat dan SMP Labbaik dalam pawai hari ini menjadi gambaran bahwa kreativitas dan nilai kesopanan dapat berjalan beriringan. Mereka tidak sekadar ikut memeriahkan pawai, tetapi turut membawa pesan bahwa generasi muda dapat tampil modern, percaya diri, dan berprestasi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai moral yang mereka pegang.
Pada akhirnya, marching band mereka bukan hanya memainkan musik untuk didengar, tetapi juga menyampaikan pesan untuk dilihat dan direnungkan: bahwa pendidikan karakter dapat menjadi bagian dari setiap langkah generasi muda.













